Kamis, 25 November 2010

Resensi Novel



Derita Dibalik Wanita Bercadar Hitam

Judul :Tiada Tempat di Surga Untuknya

Pengarang : Nawal El Saadawi

Penerbit : NAVILA

Halaman : 159 halaman

Tahun Terbit : 2005

Nawal adalah seorang wanita Mesir yang berprofesi sebagai dokter. Disamping profesinya sebagai dokter, ia juga bekerja sebagai aktivis perempuan. Sudah banyak kasus yang telah ia diselesaikan mulai kasus pembunuhan, kekerasan, dan apa saja yang menyangkut hak keperempuanan. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk menaikkan martabat perempuan karena didaerahnya perempuan hanya seperti mainan yang dimainkan oleh laki-laki dan apabila sudah rusak lalu dibuang. Perempuan disana tidak diperbolehkan keluar rumah dan bekerja. Kehidupan pribadi Nawal pun tidak jauh beda dengan wanita Mesir lainnya. Setelah menikah, Nawal dikekang oleh suaminya dan tidak boleh melakukan sesuatu di luar rumah kecuali mengurus suami. Karena tidak sanggup, Nawal pun mengajukan perceraian dengan suaminya dan akhirnya ia bisa kembali bekerja dan membantu hak perempuan.

Di klinik kecil miliknya ia merawat seorang gadis bercadar hitam yang mengalami gangguan kejiwaan. Awalnya gadis bercadar itu menganggap patung yang ada di ruang kerjanya itu hanyalah sebuah pajangan. Tapi karena setiap hari menghabiskan waktu kerjanya bersama patung itu, gadis itu mulai menyadari bahwa ia telah jatuh cinta kepada sebuah patung. Dan masalah itu telah diketahui oleh sang Ayah dan langsung membawanya ke rumah sakit. Karena tidak mengalami perubahan akhirnya sang Ayah membawa anak gadisnya ke klinik milik Nawal. Dan di situlah Nawal berusaha menyelesaikan masalah si gadis tersebut. Tidak hanya itu, Nawal pun bertemu dengan Zainab, seorang gadis penurut yang selalu menuruti seluruh perintah suaminya dan rela dipukuli suaminya hingga ia mati tanpa bisa membalas apapun kecuali terdiam. Zainab bersikap seperti itu karena ia selalu mengingat perkataan Ibunya bahwa kelak ia akan dapatkan surga dari tangan suaminya. Dan dari situ Zainab pun selalu berpikir bahwa apabila ia membantah suaminya kelak tiada tempat di surga untuknya nanti. Berbeda dengan Zainab, Nawal bertemu dengan sekumpulan Ibu pembunuh bercadar hitam. Sebenarnya Nawal tidak percaya bagaimana seorang ibu yang harusnya cinta dan sayang kepada suami serta anaknya malah membunuh orang yang mereka cintai. Namun, masing-masing dari mereka mempunyai alasan tersendiri kenapa mereka melakukan itu. Ada salah satu dari mereka yang memberi alasan bahwa yang menjadi ’korban’ disini ialah diri mereka bukan anak atau suami mereka. Apakah Nawal mampu memecahkan segala permasalahan wanita-wanita bercadar hitam tersebut? Apa maksud dari teka-teki pembunuh yang mengatakan bahwa ‘korban’ sebenarnya adalah diri mereka ? Di samping itu bagaimana dengan kehidupan pribadi Nawal sendiri? Akankah perceraian ia dan suaminya benar-benar terjadi ?

Karya Nawal El Saadawi ini memang sedikit berbeda dengan karya-karya sebelumya, seperti Two Women in Love, Memoirs of Lady Doctor, dan Women at Point Zero. Di novel ini, Nawal menggunakan namanya sendiri sebagai pemeran utama dan bercerita dengan gaya peradaban Timur. Ciri khas yang masih membekas dari tulisannya adalah selalu berhubungan dengan perempuan dan hak-hak perempuan yang kadang terlupakan oleh sebagian laki-laki. Namun terkadang terdapat bahasa asing di dalam novel seperti bahasa Yunani dan Arab yang membuat pembaca sedikit kurang mengerti maksud dari cerita di novel tersebut. Terlepas dari itu semua, novel ini layak untuk kita miliki.

0 komentar:

Poskan Komentar